Lingkungan

Basuki Wasis : Tanah Gambut di PT. DPL Sudah Rusak

Basuki Wasis, Ahli Tanah dari IPB Bogor
ACEHTERKINI.COM | Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Basuki Wasis mengatakan tanah gambut di lahan perusahaan kelapa sawit PT. Dua Perkasa Lestari (DPL) sudah rusak karena pernah terbakar.
“Kami menemukan kerusakan itu setelah melakukan verifikasi ke lapangan bersama Bareskrim, UKP-4, Polda Aceh, pihak BPN dan ditemani juga oleh pihak perusahaan pada September 2012 lalu,” kata Basuki Wasis dalam keterangannya sebagai ahli di persidangan pidana PT. DPL, Selasa (24/3/2015) di Pengadilan Negeri Tapak Tuan.
Ahli tanah dan kerusakan lingkungan ini menjelaskan lahan gambut di PT. Dua Perkasa Lestari (DPL) pernah terbakar. “Ada sisa log kayu hutan alam ditebang dan terbakar,” katanya dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Rahma Novatiana SH.
“Saya datang ke lokasi dua kali, yaitu pada September 2012 untuk verifikasi dan membantu penyelidikan, sedangkan pada Februari 2013 turun ke lokasi karena sudah masuk ke tahap penyidikan,” terang ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini.
“Saat ke lapangan saya melihat tanah gambut di lahan itu pernah terbakar, sehingga kalium, kalsium, magnesium meningkat. Bagus untuk tanaman sawit, sementara umur tanahnya berkurang,” kata Basuki Wasis.
Ia menambahkan dampak dari lahan gambut terbakar menyebabkan fungsi penyimpanan air di lahan gambut itu berkurang sehingga mudah terjadi banjir. Kemudian ekosistemnya pasti rusak dan terganggu.
Menanggpi keterangan ahli ini, terdakwa Mujiluddin yang didampingi kuasa hukumnya mengatakan tidak mungkin tanah gambut di perusahaan PT. DPL itu rusak. Pasalnya tanaman sawit yang sudah ditanam tumbuh subur sekarang.
Mujiluddin mengatakan cara ahli mengambil sampel tidak sesuai dengan mekanisme. “ahli hanya mengambil sampel lalu dimasukkan dalam plastik, tidak dimasukkan dalam ring sebagaimana mestinya,” terang Mujiluddin mengaku melihat sendiri bagaimana saat itu ahli mengambil sampel saat datang ke lokasi.
Kemudian laboratorium yang digunakan oleh ahli untuk menilai kerusakan tanah gambut di PT. DPL tidak jelas. “Ahli banyak meminjam laboratorium milik orang lain. Artinya merek orang yang kerjakan ahli,” kata Mujiluddin mengaku sangat keberatan dengan keterangan Basuki Wasis di persidangan.

Manager kebun PT.DPL ini juga menyampaikan keberatannya terkait sampel pembanding yang diambil oleh ahli. Menurutnya ahli mengambil sampel pembanding di hutan sekunder, seharusnya ahli bisa mengambil sampel di tanah gambut yang sudah ditanam dan tidak terbakar. [ate]

To Top