Ekonomi

Tanaman Padi di Baktiya Barat Terancam Mati

ACEHTERKINI.COM | Sekitar  500 hektar (Ha) tanaman padi di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara terancam mati akibat kekeringan apalagi tidak dialiri air irigasi dikawasan itu. Masyarakat setempat meminta pemerintah segera membangun saluran irigasi di kecamatan tersebut untuk mengairi sawah mereka.

“Dari 2.572 hektar sawah di Kecamatan Baktiya Barat, 500 hektar dengan tadah hujan, karena tidak dibangun saluran irigasi,” ujar kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Baktiya Barat, Marzuki kepada wartawan, Jum’at (20/2/2015).

Kata dia, untuk 500 hektar sawah ini tidak dibangun irigasi karena tidak ada sumber air yang dekat dengan daerah pesisir.

Sawah tadah hujan tersebut terdapat di beberapa desa di Baktiya Barat, diantaranya, Desa Matang Kelayu, Matang Panyang, Menasah manyang, dan Desa Matang Hu.

“Mereka kerap mengalami gagal tanam karena kekeringan. Padi yang ditanam awal 2015 juga terancam gagal tanam karena kekeringan,”tambahnya.

Menurut Marzuki, tempat penampung air pompanisasi di kecamatan Baktiya tersebut jebol sebelum difungsikan sehingga masyarakat sangat membutuhkan air untuk sawah mereka. Tempat penampung air pompa nisasi di Desa Matang Paya jebol saat diresmikan oleh Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib beberapa waktu lalu. Jika tempat penampungan air itu dapat difungsikan diperkirakan dapat dialiri beberapa hektar sawah.

Sementara salah seorang petani, Yus Adi (39) mengatakan, tanaman padi miliknya sudah mulai layu karena tidak ada air, jika hujan tidak turun dalam beberapa hari kedepan diperkirakan tanaman padi mereka akan mati. “kami cuma bisa mengharap air hujan, jika hujan tidak turun dalam beberapa hari kedepan tanaman padi akan layu, jika sudah bengini petani memotong padi yang sudah ditanam itu untuk pakan ternak mereka,” kata Yus Adi.

Sementara tanaman padi milik petani di Aceh Utara yang ditanam pada awal 2015 itu saat ini perlu dipupuk, namun petani mengaku sulit mendapatkan pupuk urea. “jikapun ada pupuk urea subsidi pada pengecer, kami harus membelinya seharga Rp130 ribu per sak,” ujar petani. Padahal harga ecerat tertinggi pupuk urea subsidi Rp80 ribu per sak.

Kepala Staf Humas PT PIM, Yosrizal, menyatakan, pupuk subsidi tidak pernahlangka dikabupaten di Aceh Utara. “Siapa bilang pupuk langka. Kami telah menyalurkan pupuk ke wilayah distribusi sesuai kebutuhan,” katanya baru baru ini kepada wartawan.

Ketua Komisi B, DPRK Aceh Utara, Fauzi Riseh kepada wartawan juga mengatakan, dalam penyaluran pupuk bersubsidi menurutnya banyak penyelewengan. “Karena yang terjadi dilapangan, kuota pupuk sangat kurang. Padahal sesuai SK Bupati sudah disalurkan,” kata Fauzi. Dalam proses penyaluran pupuk tersebut, anggota DPRK  meminta pihak PT. PIM melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait. [Jamal]

To Top