Sosial

Rumah Adat Cut Mutia Akan Dihiasi Barang Bersejarah

ACEHTERKINI.COM | Pelestarian peninggalan sejarah di Aceh Utara khususnya Rumah Adat Aceh Cut Meutia di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matang kuli, Aceh Utara terkesan setengah hati. Di rumah tersebut tidak terdapat barang bersejarah, sehingga pengunjung kecewa karena hanya bisa melihat sejumlah foto dan dua unit rapa’i (gendang), bahkan lantai rumah tersebut juga sudah mulai lapuk.

“Banyak pengunjung mengaku kecewa karena tidak bisa melihat peninggalan sejarah, para pengunjung hanya bisa melihat foto perjuangan Cut Meutia, padahal warga sangat mengharapkan bisa menyaksikan langsung barang peninggalan sejarah seperti pedang, keris, dan sejumlah peninggalan sejarah milik pahlawan perempuan tersebut,” ujar penjaga Rumah Adat Aceh Cut Meutia, Muslem (30) kepada wartawan, Jum’at (20/02/2015).

Muslem menuturkan, selain barang sejarah, pengunjung juga membutuhkan lampu taman, tempat peristirahatan, dan kolam ikan  di lokasi rumah tersebut. “Pengunjung juga meminta seharusnya pemerintah juga menyediakan pustaka yang diisikan buku sejarah perjuangan Cut Meutia, sehingga pengunjung menambah ilmu tentang petjuangan pahlawan Aceh,”harapnya.

Muslem mengaku setiap hari libur, rumah tersebut dikunjungi ratusan warga yang didominasi dari kalangan pelajar.

“Setiap hari ada pengunjung, namun paling banyak hari libur. Hari libur kebanyakan pengunjung dari kalnagan pelajar. Saya juga mengaharapkan supaya dibangun gubuk untuk penjaga rumah ini, agar bisa menetap disini, karena selama ini ketika  pengunjung datang harus menghubungi saya lebih dulu baru bisa masuk, karena jarak tempat tinggal saya dengan rumah Cut Meutia lumayan jauh,”sebut penjaga Rumah Adat Aceh itu.

Sementara Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan pada Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubbudpar) Aceh Utara, Nurliana kepada wartawan juga mengatakan, dirinya sedang berupaya untuk menyediakan benda peninggalan sejarah di Rumah Adat Aceh Cut Meutia. “kita harus mencari yang benar benar barang peninggalan Cut Meutia, tidak bisa hasil replika,”katanya.

Kendala lain, menurut Nurliana adalah karena tidak ada anggaran. Namun pihaknya mengaku sedang musyawarah dengan salah seorang keturunan Cut Meutia, yang juga anggota Dewan, supaya penyediaan benda sejarah segera terwujud.

Nurliana mengaku, pengadaan barang bersejarah di Rumah Adat Cut Meutia diperkirakan menghabiskan Rp85 juta. “Terkait pustaka dan buku sejarah tanggung jawab Dinas Pendidikan, kami hanya bersifat publikasi, jika buku tentang sejarah urusan Dinas Pendidikan,”jelasnya.

Selaian Rumah Cut Meutia, (Dishubbudpar)Aceh Utara  pada 2014 juga mendapat alokasi anggaran untuk penataan situs cagar budaya kompleks makam Sultanah Nahrisyah tahap pertama Rp200 juta, dan penataan situs cagar budaya kompleks makam Raja Ahmad Rp68 juta, penataan situs cagar budaya kompleks makam Tengku Cot Batee Badan Rp48 juta. Kemudian  penataan situs cagar budaya kompleks makam Tengku sebesar Rp94 juta, dan penataan situs cagar budaya kompleks makam Tengku Cot Plieng Rp68 juta. [Jamal].

To Top