Ekonomi

PT. SPS Bayar Kontraktor Pupuk Rp 36 Ribu Per Hektar

Siang Malam Padamkan Api Dibayar Rp 140.000

Yahya bin Samad disumpah sebelum diambil keterangan sebagai saksi fakta di PN Meulaboh, 4 Februari 2015

Yahya bin Samad disumpah sebelum diambil keterangan sebagai saksi fakta di PN Meulaboh, 4 Februari 2015

ACEHTERKINI.COM | Yahya Bin Samad, Kontraktor pemupukan di lahan PT. Surya Panen Subur (SPS) dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, Rahmat Nur Hidayat sebagai saksi fakta kasus pidana PT. SPS-2. Ia mengaku dibayar oleh perusahaan kelapa sawit itu Rp36.000 per hektar untuk menabur pupuk

Pengakuan tersebut disampaikannya pada persidangan pidana PT. SPS-2 di PN Meulaboh, Rabu (4/1/2015).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH, bersama hakim anggota Rahma Novatiana SH dan Alex Adam Faisal SH, Ia mengatakan awalnya dibayar Rp27.000 per hektar, tapi kemudian dinaikkan menjadi Rp36.000 per hektar.

Tidak hanya itu, PT. SPS-2 juga membayar ongkos bongkar muat pupuk sebesar Rp20 ribu per ton. Kemudian “nguntil” juga dibayar Rp 30 ribu per ton,” kata warga Desa Sumber Bakti, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya ini.

Yahya mengatakan dalam melakukan pekerjaan itu tidak ada perjanjian atau kontrak khusus dengan PT. SPS-2. “Kami bekerja 22 orang diantaranya 11 perempuan dan 11 laki-laki menaburi pupuk, kadang satu hari kami bisa selesaikan tiga hektar,” kata dia.

Dikatakannya pupuk-pupuk yang digunakan oleh PT.SPS-2 adalah jenis Kaptan, Dolomite, RP dan Pupuk Kiserit untuk meninggikan Ph tanah. Kemudian pupuk urea untuk pertumbuhan daun dan pupuk untuk merangsang pertumbuhan buah.

Penaburan pupuk ini dilakukan setelah lobang tanam disiapkan, kemudian satu minggu sudah tanam. Selanjutnya ketika umur batang sudah tiga bulan sampai umur enam bulan. Setelah umur batang satu tahun juga dilakukan penaburan pupuk.

Kebakaran Lahan Gambut

Yahya bin Samad membenarkan telah terjadi kebakaran di lahan PT. SPS-2. “Saya tidak ingat kapan kebakaran tersebut terjadi, tapi saat itu saya berada di rumah. Dua hari setelah kebakaran, saya diminta Mandor untuk melakukan pemadaman api,” katanya.

Lanjutnya, Mandor meminta saya mencari 20 orang untuk membantu memadamkan api di Afdeling Fanta.

“Saya bekerja empat hari empat malam, tidak tidur dan hanya istirahat makan dan minum,” katanya mengaku tidak paham adanya Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (TKTD) di PT.SPS-2.

Yahya mengaku mendapat bayaran Rp140.000 untuk memadamkan api siang malam dari PT. SPS.

“Tidak ada mobil pemadam kebakaran dan baju seragam pemadam, yang ada hanya mesin robin, timba dan eskavator,” katanya mengaku membantu menyemprot api dengan pompa air.

Saya tidak melihat kapan api padam, pada hari Sabtu (red- 24 Maret 2012) dinihari ada turun hujan,” katanya.

Yahya mengatakan api membakar daun kering, lalu merembes ke kayu hasil tebangan buka lahan yang telah dirumpuk berbaris panjang. “Api doyan yang kering dan otomatis kayu terbakar,” ujarnya.

“Saat itu angin kencang, saya melihat percikan api. Lahan yang tidak terbakar menjadi terbakar,” kata warga Tangerang ini.

Menanggapi saksi fakta ini, para terdakwa tidak keberatan dengan keterangan Yahya bin Samad. Para terdakwa hanya menyampaikan keberatan terkait nama Afdeling sudah ada sebelum terjadinya kebakaran.

Untuk diketahui Perkara pidana nomor 53/pid.sus/2014/PN MBO menyeret para direksi PT. SPS-2 yaitu, Edy Sutjahyo Busiri, T. Marjan Nasution dan Anas Muda Siregar. Tiga petinggi perusahaan kelapa sawit ini diduga melanggar Pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf h Jo Pasal 116 ayat (1) huruf b UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Hadir kuasa hukum terdakwa, Indis Kurniawan SH, Endar Sumarsono SH, Trimoelja D. Soerjadi dan Chairul Azmi SH. [red]

To Top