Lingkungan

Basuki Wasis: 100 Persen Mikro Organisme Gambut Mati

Kebakaran Gambut Sebabkan Banjir

ACEHTERKINI.COM | Dosen Fakultas Kehutanan IPB, Basuki Wasis mengatakan lahan gambut di HGU PT. SPS-2 di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya memiiki ketebalan rata-rata lebih dari tiga meter.

“kita sudah ukur kedalamannya saat turun ke lokasi pada Mei dan Juni 2012,” kata Basuki Wasis saat dihadirkan sebagai ahli dalam perkara pidana PT. SPS-2 yang menyeret para direksi dan korporasi sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Meulaboh, Selasa (24/2/2015).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH dan hakim anggota Adam Alex Faisal SH dan Rahma Novatiana SH, ahli menjelaskan kebakaran yang terjadi di lahan gambut itu bisa menyebabkan banjir.

Pasalnya tanah gambut bisa menyimpan satu ton air, maka kalau dibakar daya simpan gambut tadi menjadi menurun. “Kalau hujan airnya keluar,” kata Basuki Wasis.

Kebakaran gambut juga akan merusak fisik dan biologi. “Jamur yang ada di gambut akan hilang jika dibakar, produktifitas menjadi menurun,” terang Basuki Wasis.

“Faktanya secara tanah, gambut yang terbakar menjadi subur, memberikan kontribusi biaya,” terang ahli ilmu tanah ini.

Jika gambut itu terbakar akan terjadi penurunan permukaan lahan gambut (Subsiden). “Kami ukur terjadi Subsiden di lahan yang terbakar dalam HGU PT. SPS-2 itu sampai 20 cm,” kata ahli.

“Gambut di lahan PT.SPS itu terbakar, fungsinya sebagai penyimpan air hilang semua, fungsi oksigen menjadi berkurang, gambut itu berfungsi banyak sebagai ekologis,” ujarnya lagi.

Dosen Fakultas Kehutanan IPB ini menyakini 100 persen mikro organisme yang dapat menyuburkan tanah gambut mati semua karena terbakar. “Analisis laboratoriumnya ada,” jelasnya.

Kemudian dari hasil kunjungan tim ke lokasi lahan PT. SPS-2, Basuki Wasis mengatakan seharusnya tanah gambut tidak boleh terjadi peningkatan Ph. “kita analisis Ph-nya di atas empat, sudah ada indikasi kerusakan lingkungan seluas lebih kurang 1.200 hektar,” kata Basuki menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rahmat NH.

Luas yang terbakar itu diketahui dari dokument PT. SPS-2 saat tim berkunjung ke lapangan pada Mei dan Juni 2012.

Menanggapi keterangan ahli ini, terdakwa satu, Edy Sutjahyo Busiri mengatakan keterangan ahli tidak bisa dijadikan rujukan karena berbelit-belit.

“Seharusnya revisi atau perbaikan berkas tidak bisa dilakukan dalam persidangan ini,” kata Edy sembari juga memberikan pujian dan terima kasih dari sebagian revisi atau perbaikan yang disampaikan ahli.

Kemudian terdakwa dua, Marjan Nasution juga membantah keterangan ahli. Menurut Marjan apa yang disampaikan ahli banyak berubah-ubah. “Yang pasti perusahaan membuka lahan tanpa bakar (PLTB).

Perkara nomor 54/Pid.Sus/2014/PN MBO

Usai sidang perkara nomor 53/Pid.Sus/2014./PN MBO dengan terdakwa para direksi PT. SPS-2 sekitar pukul 21.45 wib, Mejelis Hakim melanjutkan perkara nomor 54/Pid.Sus/2014/PN MBO dengan terdakwa atas nama korporasi PT.SPS yang diwakilkan oleh Asrul Hardianysah.

Keterangan ahli Basuki Wasis ini pada perkara 53/Pid.Sus/2014/PN MBO dialihkan ke perkara 54/pid.sus/2014/PN MBO.

Ahli mengaku tidak keberatan jika keterangan pada perkara 53/Pid.Sus/2014/PN MBO dialihkan ke perkara 54/Pid.Sus/2014/PN MBO.

Namun terdakwa yang mewakili perusahaan PT. SPS, Arsul Hardiansyah menyampaikan keberatan atas pernyataan ahli pada perkara 53/Pid.Sus/2014.PN MBO.

Menurut Arsul keterangan ahli Basuki Wasis tidak benar. “Tidak ada kerusakan lingkungan seperti yang dimaksudkan oleh ahli Basuki Wasis, karena sampai hari ini semua tanaman tumbuh masih hidup normal,” kata Arsul didampingi pengacaranya Rivai Kusumanegara, Triemolyo, Endar Sumarsono, Chairul Azmi, Indis Kurniawan dan Chairuni.

“Mikro organisme yang ada di lahan itu masih mendukung masih tumbuhnya tanaman sawit,” terang Arsul sembari mengatakan penelitian yang dilakukan menggambarkan seolah-olah lahan itu sudah rusak.

“Hasil laboratoriumnya tidak benar,” kata Arsul Hardiansyah.

Untuk diketahui perkara pidana hukum lingkungan ini dituntut oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) karena diduga akibat kebakaran lahan gambut seluas 1.000 hektar lebih itu telah merusak fungsi gambut di kawasan yang sering disebut “Rawa Tripa” dan merusak lingkungan setempat.

Kebakaran lahan gambut ini juga mengakibatkan percepatan pemanasan global dan mengurangi zat karbon yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan manusia. [red]

To Top