Lingkungan

Sebelum Kebakaran, PT. SPS Hanya Miliki 2 Menara Api

Delapan Afdeling Terbakar

ACEHTERKINI.COM | Pekerja PT. Surya Panen Subur (SPS)-2 mengaku jumlah menara api di lahan perusahaan sawit itu hanya dua unit sebelum terjadinya kebakaran pada 19 Maret 2012.

Hal tersebut dikatakan oleh Darwansyah Nasution dalam keterangan saksi faktanya di Pengadilan Negeri Meulaboh, Rabu (21/1/2015) dalam perkara pidana nomor 53/Pid.sus/2014/PN MBO.

Darwansyah yang saat itu bertugas mengontrol serangan hama mengatakan lahan yang terbakar di HGU PT SPS-2 adalah lahan yang sudah disteking yaitu di Afdeling Bravo (B), Carlie (C), Fanta (F), Delta (D) dan Echo (E).

“Pemadaman api dilakukan selama enam hari, sempat turun hujan di akhir-akhir,” katanya dalam persidangan yang dipimpin Ketua Hakim Majelis, Rahmawati SH bersama hakim anggotanya Rahma Novatiana SH dan Qudri SH.

“Semua Afdeling terbakar sebagian, tapi Afdeling Carlie (C) tidak terbakar,” katanya lagi.

Terkait menara api, Darwansyah yang kini diangkat menjadi Asisten Afdeling mengatakan hanya ada dua menara api di HGU PT. SPS sebelum kejadian kebakaran, yaitu satu menara di Afdeling Bravo (B) dan satu lagi di Afdeling Hotel (H).

“Satu menara sudah ditumbangkan karena kayu-kayunya sudah rapuh, sekarang sudah dibangun baru,” ujarnya lagi.

Ia menjelaskan kebakaran yang terjadi di lahan PT. SPS-2 ini berawal di Afdeling Fanta (F) kemudian merembes ke Afdeling Echo (E) lalu ke Afdeling Delta (D).

“Sebelum tahun 2012, juga pernah terjadi kebakaran yaitu di masa PT. Astra yang tidak terlalu besar. Kalau kebakaran Maret 2012 di lahan PT. SPS-2 besar apinya,” ujar Darwansyah Nasution.

Kejadian kebakaran Maret 2012, kata Darwansyah ada delapan Afdeling yang terbakar yaitu Alfha (A), Delta (D), Echo (E), Fanta (F), Indian (I), Juliet (J), Kilo (K) dan Golf (G).

Sedangkan Afdeling Hotel (H), Carlie (C) dan Bravo (B) tidak terbakar.

Menanggapi keterangan saksi fakta ini, terdakwa Anas Muda Siregar membantah.

Didampingi penasehat hukumnya, Rivai Kusumanegara, Endar Sumarsono, Indis Kurniawan, Chairuni Bachsyaini, terdakwa Anas Muda Siregar mengatakan tidak semua Afdeling terbakar.

Ia merincikan, Afdeling Delta (D) terbakar sebagian yaitu tanaman kecil. Sedangkan sawit besar tidak terbakar.

Kemudian di Afdeling Echo (E), tanaman besar tidak terbakar, tanaman kecil hanya sebagian yang terbakar.

Afdeling Fanta (F) tanaman besar juga tidak terbakar, hanya tanaman kecil sebagian yang terbakar.

Afdeling Golf (G), tanaman besar juga tidak terbakar, tanaman kecil terbakar sebagian.

Afdeling Indian (I), hanya tanaman kecil yang terbakar sebagian, belum ada tanaman besar.

“Kemudian Afdeling Juliet (J), Hotel (H), Carlie (C), Bravo (B), Kilo (K) dan Alfa (A) tidak terbakar,” kata Anas Muda Siregar.

Untuk diketahui, perkara ini dituntut secara pidana oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2014 atas kasus kebakaran lahan gambut seluas kurang lebih 1.000 hektar.

Kasus pidana ini menjerat para direksi PT. SPS, yaitu Edy Sutjahyo Busiri, T. Marjan Nasution dan Anas Muda Siregar karena diduga melanggar Pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf h Jo Pasal 116 ayat (1) huruf b UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [red]

To Top