Lingkungan

Lahan Gambut Terbakar, PT. DPL Rugi Rp 2,9 Miliar

ACEHTERKINI.COM | Kejadian kebakaran di lahan HGU Milik PT. Dua Perkasa Lestari di Babahrot, Aceh Barat Daya mengakibatkan kerugian besar yang dialami perusahaan kepala sawit tersebut.

General Manager  (GM) PT. DPL, Muhammad Suheri mengatakan kebakaran yang terjadi pada Maret dan Juni 2012 seluas 225 hektar.

Dalam keterangan saksinya di PN Tapak Tuan, Selasa (20/1/2015) Suheri mengatakan lahan PT DPL itu diduga dibakar oleh masyarakat.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahma Novatiana SH bersama hakim anggota Azhary Prianda Ginting SH dan Khairu Rizky SH, Ia menjelaskan kerugian yang dicapai PT. Dua Perkasa Lestari ini diperkirakan hampir mencapai Rp 3 miliar.

Dikatakannya pada kejadian Maret 2012, areal yang terbakar seluas 71 hektar di lahan yang sudah ditanami sawit baru berumur hampir dua tahun. Lokasi kebakarannya di block 7D, 8D, 9D dan 10D.

“Perkiraan costnya mencapai Rp18.000.000 per hektar,” katanya.

Asumsinya jika 71 hektar yang terbakar berarti kerugian yang didapat PT. DPL pada Maret 2012 lalu mencapai Rp1.278.000.000,-

Lanjut Suheri, peristiwa kebakaran lahan pada Juni 2012 juga mengakibatkan perusahaan rugi besar.  Areal yang terbakar seluas 154 hektar, rinciannya 101 hektar sebagian sudah di tanam dan 53 hektar sudah selesai steking, siap tanam dan sudah ada pancang.

Nilai kerugian katanya untuk luas 101 hektar yang terbakar itu mencapai Rp12 juta per hektar. Asumsinya total kerugian di lahan tersebut mencapai Rp1.212.000.000.

Berikutnya areal 53 hektar yang belum ditanam dan sudah siap disteking juga terbakar pada Juni 2012. Kerugian mencapai Rp9 juta. Asumsinya total kerugian berjumlah Rp477.000.000,-

Jika ditotalkan keseluruhan kerugian yang dialami PT. Dua Perkasa Lestari ini mencapai Rp2.967.000.000.

General Manager PT. DPL, Muhammad Suheri mengatakan keseluruhan jumlah lahan HGU PT.DPL seluas 2.600 hektar. “Lahan yang sudah di buka baru Rp800 hektar,” katanya.

Untuk mengatisipasi musibah itu, Suheri mengaku PT. DPL memiliki tim khusus pemadamam api yang dilengkapi peralatan lengkap.

“Kami memiliki 12 unit mesin robin, ratusan meter selang dan tiga unit eskavator untuk memadamkan api tersebut,” katanya.

Nilai kerugian yang dipaparkan Suheri dibantah oleh terdakwa, Mujiluddin.

Didampingi kuasa hukumnya Deddy Kurniadi SH dan Akhmad Johari Damanik SH, Mujiluddin menjelaskan bahwa kerugian yang dicapai perusahaan lebih besar dari yang disebutkan oleh General Manager, Suheri.

“perhitungan standar kalau batang sawit yang belum menghasilkan umur dua tahun itu mencapai Rp30-40 juta per hektar,” demikian bantahan Mujiluddin dalam persidangan tersebut.

Saksi lain adalah H. Jannatun, Direktur PT. Muda Jaya Group yang menangani steking di HGU milik PT. DPL. “Kontrak kami 1.000 hektarm baru dikerjakan 300 hektar, kami stop karena uang pembayarannya tersendat,” ujarnya di persidangan.

Terkait kebakaran, Jannatun hanya mengetahui dari stafnya yang bernama Al-Misbah. “Saya tidak sering ke lapangan, saya mendapat laporan kebakaran dari Al-Misbah, alat berat perusahaan juga membantu ikut memadamkan api di HGU PT. DPL,” ujarnya.

Dalam persidangan nomor 88/Pid.sus/2014/PN TTN, Selasa (20/1/2015), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaaan Blang Pidie, Fahmi SH dan Firsa SH menghadirkan tiga saksi fakta yaitu Direktur Utama PT. Muda Jaya Group, H. Jannatun yang menangani pembukaan lahan dan steking di areal perusahaan, Kliwon sebagai Kepala Tata Usaha PT. DPL dan Muhammad Suheri, General Manager.

Untuk Diketahui PT. Dua Perkasa Lestari dituntut secara pidana oleh Polda Aceh terkait kebakaran lahan gambut yang merusak lingkungan hidup. Polda menetapkan Manager PT. DPL. Mujiluddin sebagai terdakwa yang diduga melanggar Terdakwa dijerat melanggar Pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf h Jo Pasal 116 ayat (1) huruf b UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Kemudian Pasal 48 ayat (1) UU Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan. [hde]

To Top