Hukum

Kontraktor PT. SPS-2 Diperiksa Sebagai Saksi Fakta

ACEHTERKINI.COM | Kontraktor Land Clearing PT. Surya Panen Subur (SPS) diperiksa sebagai saksi fakta di Pengadilan Negeri Meulaboh, Rabu (28/1/2015). Kontraktor tersebut bernama Samiri memberikan keterangan yang meringankan perusahaan.

Kemudian satu orang saksi fakta meringankan yang lain, Samsul Bahri yang bekerja pada bagian plan and control SPS.

Kedua saksi fakta ini bersaksi dalam perkara 53/pid.sus/2014/PN MBO yang menyeret para direksi PT. SPS-2, yaitu Edy Sutjahyo Busiri, Marjan Nasution dan Anas Muda Siregar sebagai terdakwa karena diduga terkait kebakarakan lahan gambut seluas 1.000 hektar pada HGU PT. SPS-2 di Desa Pulo Kruet, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya pada Maret 2012.

Perkara yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH ini dimulai pukul 10.00 wib – 18.00 wib.

Dalam keterangan saksi fakta oleh Samiri, alat berat eskavator yang dimiliki kontraktor juga ikut membantu memadamkan api pada Maret 2012. Samiri juga mengakui ada juga alat berat yang dipindahkan ke tempat yang aman agar tidak terbakar.

Alat berat eskavator tersebut disewa PT. SPS-2 selama tiga hari dengan biaya Rp250.000 per jam.

Kemudian Samsul Bahri, yang bertugas sebagai kontrol tanam mengatakan sebelum kebakaran terjadi kondisi sawitnya tidak terserang hama tikus maupun rayap.

Kuasa hukum PT SPS-2, Endar Soemarsono SH mengatakan keterangan dua saksi fakta yang meringankan perusahaan ini semakin menguatkan bukti bahwa PT. SPS tidak melakukan pembakaran dan perusahaan telah melakukan upaya pemadaman dengan maksimal.

Sidang pidana dalam perkara ini akan dilanjutkan pada Rabu, 4 Februari 2015 masih agenda pemeriksaan saksi fakta yang meringankan dari perusahaan.

Menurut jadwalnya perkara pidana nomor 54/pid.sus/2014/PN MBO yang menyeret PT. SPS-2 sebagai terdakwa diwakilkan Arsul Hardiansyah juga akan berlangsung pada 4 Februari 2015 dengan agenda pemeriksaan ahli.

Untuk diketahui perkara pidana hukum lingkungan ini dituntut oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) karena diduga akibat kebakaran lahan gambut seluas 1.000 hektar itu telah merusak fungsi gambut di kawasan yang sering disebut “Rawa Tripa” dan merusak lingkungan setempat.

Kebakaran lahan gambut ini juga mengakibatkan percepatan pemanasan global dan mengurangi zat karbon yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan manusia. [red]

To Top