Sosial

Konflik PT. Hyundai Dengan Warga Burni Bius Berdamai

ACEHTERKINI.COM | Setelah sempat ricuh karena PT. Hyundai melarang warga Mukim Silih Nara, Desa Burni Bius Kabupaten Aceh Tengah memakai alat pengeras suara untuk merayakan Maulid Nabi, kini persoalan tersebut menemui titik terang.

Sebelumnya PT. Hyundai yang mengerjakan proyek PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah melarang warga menggunakan alat pengeras suara untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Larangan tersebut diprotes keras, sehingga warga menyerang kantor perusahan itu karena dianggap sudah menganggu kearifan lokal setempat, Selasa (13/1/2015).

Persoalan itu akhirnya dimediasi oleh Forkopimda Aceh Tengah, Kamis (15/1/2015). Pertemuan ini dihadiri oleh Reje Burni Bius, Yusni dan Project Manager Hyundai E & C, Mr. Kim Do Gyoon.

“Kami mengakui kesalahan yang telah diperbuat oleh karyawan Hyundai,” kata Mr. Kim.

Pertemuan yang difasilitasi oleh Forkopimda Aceh Tengah ini melahirkan tujuh kesepakatan yang disaksikan oleh Mukim Silihnara, lima Reje yang berada di sekitar lokasi proyek Hyundai, unsur mahasiswa dan para manager proyek PLTA.

Tujuh kesepakatan tersebut adalah

  1. Permohonan maaf dan penyesalan yang mendalam atas peristiwa hari selasa tanggal 13 Januari 2015 yang melibatkan karyawan Hyundai E & C sehingga menimbulkan rasa kurang nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah keagamaan
  2. Mengambil sikap tegas dengan memberhentikan karyawan yang telah menyinggung perasaan dan kenyamanan masyarakat
  3. Menghormati norma sosial, budaya, kegiatan keagamaan serta senantiasa menjaga kearifan lokal yang berlaku dalam kehidupan masyarakat
  4. Bersedia tunduk dan patuh terhadap ketentuan yang berlaku apabila kejadian serupa terulang kembali
  5. Setiap pelaksanaan Pekerjaan  proyek PLTA mengikuti Amdal yang sudah ditetapkan
  6. Meningkatkan kepedulian lingkungan contohnya memperbaiki jalan, dan sarana publik yang rusak akibat proyek PLTA
  7. Semua usulan yang bersifat teknis, seperti jam kerja, akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Usai membaca kesepakatan tersebut, Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin mengatakan siapapun yang berinvestasi di Aceh Tengah harus senantiasa memperhatikan kondisi sosial, budaya termasuk kehidupan beragama.

“Orang Asing yang berkeja harus mampu menyesuaikan sikap dan prilaku dengan kondisi lokal,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, bila selesai nanti, gardu PLTA Peusangan I dan II mampu menghasilkan daya berkekuatan 86 mega watt. Merupakan energi yang besar untuk Aceh Tengah dan seyognyanya mengundang industry sebagai alternative pemanfaatan sumberdaya pertanian daerah. [red/mk]

To Top