Lingkungan

1.180 Hektar Terbakar, Ini Pengakuan Kepala Kebun PT. SPS

ACEHTERKINI.COM | Kepala Kebun Rayon II PT. Surya Panen Subur (SPS)-2, Anas Muda Siregar akhirnya bersaksi di Pengadilan Negeri Meulaboh terkait tuntutan pidana Kementerian Lingkungn Hidup (KLH) atas kebakaran lahan di HGU PT. SPS-2 Desa Pulo Kruet, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya pada 19-23 Maret 2012.

Kesaksian Anas Muda Siregar ini adalah saksi fakta terakhir dalam perkara nomor 54/pid.sus/2014/PN MBO dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menjerat korporasi PT. SPS-2 sebagai terdakwa yang diwakili oleh Arsul Hardiansyah, Rabu (21/1/2015) malam.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH bersama hakim anggota Rahma Novatiana dan Al-Qudri SH, Anas mengatakan kebakaran di lahan PT. SPS-2 pada Maret 2012 itu berawal di Afdeling Fanta.

Kemudian karena angin kencang saat itu, api merembes ke Afdeling Echo dan Delta. Lalu ada kebakaran lagi di Afdeling Indian yang juga merembes ke Afdeling Golf.

“Semua Afdeling itu dibawah tanggung jawab saya sebagai kepala kebun rayon II PT. SPS-2,” kata Anas Muda Siregar menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rahmat Nur Hidayat.

Ia berkisah, waktu kejadian kebakaran pada tanggal 19 Maret 2012 sekitar pukul 12.00 wib, saya berkeliling karena ada keperluan di Afdeling Hotel. Lalu saya berjumpa Aryanto Wijaya kepala Afdeling Fanta yang katanya ada titik api. “Saya minta api tersebut dipadamkan segera,” kata Anas.

Kemudian saya ke kantor dan melaporkan dengan Tim Koordinasi Tanggap Darurat (TKTD) untuk memadamkan api di Afdeling Fanta. Kemudian api juga membakar Afdeling Indian.

Ada 60 orang yang sedang memadamkan api di Afdeling Fanta. Yang melakukan pemadaman adalah buruh harian lepas, mandor dan karyawan serta dibantu oleh helpernya kontraktor.

Saat itu kata Anas, PT. SPS hanya ada 6 robin, masing-masing robin dilengkapi selang sepanjang 150 meter. Para buruh, karyawan juga membawa ember untuk memadamkan api tersebut. “Tidak ada tim khusus pemadam api di PT. SPS-2,” kata Anas.

Katanya bahwa api berhasil padam pada tangal 25 Maret 2012. “tapi pada tanggal 27 Maret sudah tidak ada asap lagi,” ujarnya.

“Saya melaporkan kepada atasan Marjan Nasution, saya tidak pulang ke rumah dua hari dan terus di lapangan,” ujar Anas.

Ia menjelaskan tidak semua luasan Afdeling terbakar, hanya spot-spot yang terbakar di Afdeling Delta, Fanta, Echo, Golf dan Indian. Kemudian ada juga Afdeling Juliet yang terbakar satu block.

Anas mengatakan sebelum tahun 2012, PT. SPS-2 juga pernah mengalami musibah kebakaran yaitu pada tahun 2011 di pinggiran Afdeling Golf karena ada warga yang membuat api saat memancing dan lupa dimatikan.

Setelah terjadinya kebakaran itu, tim inventarisasi TKTD perusahaan, Samsul melakukan perhitungan. Data perhitungan itu diberikan kepada penyidik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Arsul Hardiansyah terdakwa yang mewakili PT SPS-2 didampingi kuasa hukumnya Rivai Kusumanegara dan rekan, 21 Januari 2015

Arsul Hardiansyah terdakwa yang mewakili PT SPS-2 didampingi kuasa hukumnya Rivai Kusumanegara dan rekan, 21 Januari 2015

“Pengukuran atau perhitungan yang dilakukan Samsul tidak valid karena tidak menggunakan alat,” ujar Anas Muda Siregar.

Dalam perhitungan itu ada tanaman yang terbakar seluas 517 hektar dan yang belum ada tanaman atau sudah steking terbakar seluas 666,23 hektar.

Anas mengakui TKTD belum memiliki SOP secara SPS. “Kita banyak dari mantan PT. Astra, semua sudah mengerti apa yang harus dilakukan, dianggap sudah tahu, kalau SOP secara PT. Agro Maju Raya (AMARA) itu ada,” ujar Anas Muda Siregar.

Pada point 15 dalam BAP, Anas juga membenarkan keterangannya bahwa yang terbakar adalah rumpukan kayu atau kayu stekingan dan sebagian tanaman sawit yang telah ditanam.

Menjawab pertanyaan penasehat hukumnya, Anas Muda Siregar mengatakan kerugian yang timbul akibat kebakaran itu mencapai Rp7 miliar.

Keterangan Anas Muda Siregar ini dibantah oleh terdakwa atas nama korporasi PT. Surya Panen Subur (SPS)-2 yang diwakili oleh Arsul Hardiansyah.

Menurut Arsul data luasan jumlah yang terbakar di lahan PT SPS-2 sebagaimana yang disebutkan oleh saksi itu tidak valid. “Perhitungan tidak dilakukan dengan alat sebagaimana mestinya sebuah pengukuran lahan,” katanya.

“Yang terbakar hanya spot-spot,” katanya sembari mengatakan keberatan dengan angka yang terbakar seluas 1.183 hektar itu.

Untuk diketahui Anas Muda Siregar sebagai Kepala Kebun Rayon II PT. SPS ini juga sebagai terdakwa bersama para direksi PT. SPS-2 yang lain yaitu, Edy Sutjahyo Busiri dan Marjan Nasution dalam perkara pidana nomor 53/pid.sus/2014/PN MBO.

Anas Muda Siregar diambil keterangannya sebagai saksi mahkkota untuk perkara nomor 54/pid.sus/2014/PN MBO dengan terdakwa atas nama korporasi PT. SPS-2 yang diwakili oleh Arsul Hardiansyah.

Kementerian Lingkungan Hidup menuntut secara pidana PT. SPS-2 karena melanggar Pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf (h), pasal 116 ayat (1) huruf (a), pasal 118, pasal 119 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [red]

To Top