Ekonomi

Warga Rawa Tripa Kehilangan Rp2,2 Miliar Per Tahun

Pendapatan dari Ikan Limbek

ACEHTERKINI.COM | Pasca tsunami tangkapan ikan limbek (red- lele kampung) mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi sejalan adanya penebangan dan pembersihan lahan di hutan rawa gambut tripa di Kecamatan Darul Mamur, Kabupaten Nagan Raya.

Hal tersebut terungkap dalam seminar mengkritisi panduan perbaikan tata kelola kawasan gambut tripa di Grand Nagan Hotel, Selasa (9/12/2014) yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh.

Dalam panduan tersebut, WALHI menganalisis menurunnya pendapatan masyarakat disekitar rawa gambut tripa yang sehari-hari bekerja sebagai penangkap limbek karena terjadi konversi lahan secara besar-besaran. Hutan rawa gambut dialihkan menjadi lahan perkebunan sawit.

Penulis buku panduan tersebut, Sanusi M Syarif mengatakan apabila rata-rata perolehan limbek per hari per orang mencapai 2 kilogram maka untuk tahun 2004 dalam satu minggu minimal bisa diperoleh 10 kilogram atau dalam satu bulan mencapai 45 kilogram.

Harga jual ke agen jika patokan sebelum tsunami mencapai Rp35.000 per kilogramnya, maka dalam satu bulan warga berpenghasilan Rp1.575.000 atau dalam satu tahun berjumlah Rp18.900.000,-

Kemudian jumlah penangkap limbek mulai dari Kuala Tripa, Seuneuam hingga Kuala Seumayam sebanyak 100 orang maka dalam satu tahun pendapatan masyarakat yang bermata pencaharian penangkap limbek ini mencapai Rp1,8 miliar sebelum tsunami.

“Keadaan tahun 2014, harga jual limbek sudah Rp55.000 per kilogramnya, maka kerugian ekonominya diasumsikan sebesar Rp2,2 miliar lebih per tahun,” kata Sanusi.

WALHI menilai hilangnya pendapatan masyarakat dalam jumlah besar ini patut disesali. “Perlu perjuangan untuk pemulihan kembali,” sebut Sanusi dalam panduan tersebut.

WALHI mendesak Pemerintah Aceh agar memulihkan kembali hak-hak ekonomi masyarakat dan social dari masyarakat di sekitar rawa gambut tripa.

Seminar mengkritisi panduan pengelolaan kawasan hutan gambut tripa ini dipandu oleh Lukman Munir yang dihadiri hampir 200 orang peserta dari unsur Muspida Kabupaten Nagan Raya, perusahaan perkebunan di rawa tripa, LSM, para tokoh masyarakat, kepala desa dan imum mukim di Nagan Raya dan Aceh Barat Daya. [Adi]

To Top