Politik

“Tercoreng” Internal Partai Dibawa ke DPRA

Abdullah Saleh

ACEHTERKINI.COM | Abdullah Saleh mengaku sangat malu dan sedih melihat peristiwa kekisruhan internal Partai Aceh dibawa ke dalam lembaga terhormat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada 9 Desember 2014.

“DPRA tercoreng karena peristiwa itu, semestinya Ridwan Abubakar atau Nek Tu menyelesaikan masalah ini secara internal partai, bukan dalam Rapat Paripurna Penetapan Pimpinan DPRA,” kata Abdullah Saleh, Jum’at (12/12/2014).

Ia menjelaskan setelah penetapan partai dikirimkan ke DPRA maka persoalan ini sudah masuk ranah mekanisme DPRA. “Itu keputusan DPRA bukan keputusan partai,” kata Abdullah Saleh.

Politisi Partai Aceh ini menganggap kekisruhan ini terjadi karena memang beda cara pandang antara Tuha Peut dengan Dewan Pimpinan Partai Aceh.

Jika Nek Tu mendapat banyak dukungan dan arahan dari Tuha Peut. Menurut Abdullah Saleh tidak serta merta menjadi otomatis, tidak memahami sesuatu yang mutlak.

“Karena memang mekanisme partai, penentuannya ada di Dewan Pimpinan Partai, kemudian kalau ada penggantinya juga merupakan keputusan partai,” tegas Abdullah Saleh.

“Kisruh ini bukan dengan Tgk. Muharuddin yang telah ditetapkan menjadi Ketua DPRA periode 2014-2019, tapi antara Ridwan Abubakar dengan Dewan Pimpinan Partai Aceh,” kata mantan Ketua Badan Legislasi DPRA.

Abdullah Saleh mengaku sangat sedih dan aksi Nek Tu sudah membuat anggota DPRA tercoreng dihadapan publik.

“perasaan saya sedih sekali, sangat terpukul. Karena yang berimbas ke publik adalah lembaga DPRA, seakan-akan lembaga terhormat ini begitu bobrok, komentar publik sangat menyedihkan,” suara Abdullah Saleh terbata-bata.

“semuanya ini terpulang kepada Ridwan Abubakar yang sangat akrab dipanggil Nek Tu,” akhirinya.

Sebelumnya Ridwan Abubakar mengatakan kisruh ini terjadi karena interupsinya diabaikan oleh Ketua DPRA sementara Tgk. Muharuddin pada Rapat Paripurna Penetapan Pimpinan DPRA, 9 Desember. [red]

To Top