Sosial

Jeritan Mantan GAM Tidak Ada Yang Dengar

Yakin Mualem Bisa Wujudkan Cita-Cita

ACEHTERKINI.COM | Miris memang, hampir sepuluh tahun MoU Helsinki yang ditandatangani antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia, kehidupan para mantan kombatan GAM masih belum berubah.

Inilah yang dirasakan Tgk. Tahe Pase alias Singa Kota atau Beudon Amad Leupon. Pasukan terdepan dan termasuk pengawal Tgk. Hasan Umar di Tiro ini dijumpai di desa terpencil di salah satu desa Kawasan Peudada Bireuen, Rabu (19/11/2014).

Ia berkisah. Pasca MoU, ia bersama rekan-rekannya bersilaturrahmi ke seluruh pelosok di Aceh untuk melihat kondisi rekan dan masyarakat pasca konflik yang kini sangat serba kekurangan.

Bantuan pemerintah hanya diberikan kepada orang-orang dekatnya saja dan para SKPA serta SKPK pun sangat enggan turun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga banyak bantuan tidak tepat sasaran dan pada akhirnya Pemerintah Aceh menjadi tidak baik dimata masyarakatnya sendiri.

“Sebahagian mantan Kombatan GAM dan bangsa Aceh yang membantu GAM saat ini belum tersentuh dengan istilahnya program pemberdayaan ekonomi korban konflik, bahkan jeritan penderitaan tidak ada yang mendengarnya,” kata Beudon alias Singa Kota geram.

Padahal dalam perhelatan pesta Demokrasi seperti Pemilihan Gubernur, Bupati dan anggota dewan, diakuinya menjadi barisan terdepan untuk pemenangan, terutama dalam proses pemenangan “HARUSMUDA” Bupati Bireuen.

“Hal ini sangat menyedihkan bagi kami-kami mantan kombatan yang telah berjuang mengorbankan harta, hilangnya nyawa keluarga, anggota keluarga disiksa, hilang tempat tinggal dan itu saya sendiri ikut mengalaminya,” ungkap Beudon.

Tapi kata Beudon, sampai hari ini nasib kami tidak ada yang peduli, kami berjuang sendiri dalam hal ekonomi, kami membuka lahan dengan tenaga dan modal seadanya.

“Kami tidak berharap apa yang dijanjikan dalam MoU Helsinki, kami mantan GAM membuka lahan dan usaha sendiri. Kalau berharap, sampai kiamat-pun tidak terealisasi, tapi kami yakin Mualem bisa mewujudkan apa yang kami cita-citakan,” tutur Beudon.

Birokrasi dalam pemerintahan juga diharapkan Beudon agar diberikan akses yang mudah untuk mantan GAM. “Kami sering datang ingin menjumpai petinggi GAM yang sekarang menjadi pejabat di pemerintah sulit sekali karena birokrasi,” tuturnya.

“Kami ingatkan Pemerintah Pusat agar jangan lagi menipu Aceh, butir-butir dalam MoU Helsinki harus dilaksanakan secepatnya, Tanah, Migas, Batas Wilayah, Bendera dan Lambang Aceh adalah hak Aceh sebagaimana dalam MoU Helsinki. ” tegas Singa Kota geram kepada Jakarta.

Untuk kali ini saya sangat yakin Legislatif kita bisa menyelesaikan masalah Aceh dengan munculnya wajah-wajah baru dari kalangan aktifis pejuang Aceh Merdeka seperti Kautsar Muhammad Yus, dan dari kalangan mantan angkatan Perang Aceh Merdeka seperti Fadli, Amd dari Dapil Bireuen , Armiyadi, Tgk Muharuddin dan Tgk Isa dari Dapil Aceh Utara (Pase). [Tim]

To Top