Sosial

Terdakwa Yakin Tidak Bakar Lahan Gambut

Klaim Masyarakat yang Membakar

ACEHTERKINI.COM | Mujiluddin yang merupakan salah seorang manager kebun PT. Dua Perkasa Lestari (DPL) menjadi terdakwa dalam perkara pidana nomor 88/Pid.Sus/2014/PN TTN yakin tidak membakar lahan gambut.

Terdakwa dijerat melanggar Pasal 108 jo Pasal 69 ayat (1) huruf h Jo Pasal 116 ayat (1) huruf b UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Terdakwa juga dituduh melanggar Pasal 48 ayat (1) UU Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan.

Sidang yang digelar, Jum’at (31/10/2014) pukul 14.00 WIB berlangsung di PN Tapak Tuan dipimpin oleh Ketua Hakim Majelis yang bersetifikasi lingkungan Rahma Novatiana SH bersama anggotanya Azhary Prianda Ginting SH dan Khairu Rizky SH dengan agenda eksepsi dari terdakwa.

Terdakwa, Mujiluddin membacakan sendiri eksepsi yang dibuatnya dihadapan majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Barat Daya, Andrile Firsa SH.

“Saya sangat yakin tidak pernah memerintahkan orang atau siapapun melakukan perbuatan atau kegiatan membuka lahan dengan cara membakar, karena kami membuka lahan dengan cara tanpa bakar dan menggunakan alat berat dilakukan oleh kontraktor,” kata dia.

“saya tidak mungkin mengorbankan masa depan dan tidak akan menghancurkan nama baik yang sudah saya jalani hampir 20 tahun di perusahaan perkebunan,” ujar Mujiluddin penuh harap.

Dengan suara yang terbata-bata, ia sesekali mengambil saputangan dari sakunya menghapus air mata yang tertahan. Ia-pun mengaku masyarakat yang membuka lahan berbatasan dengan HGU PT. Dua Perkasa Lestari jumlahnya sangat banyak, karena lahan yang digarap adalah milik HGU PT. Cemerlang Abadi (CA).

“Musibah buat kami, masyarakat mencoba dan berusaha memasuki juga lahan PT. Dua Perkasa Lestari (DPL) dengan menebang dan membuka lahan dengan cara bakar. Terbukti karena ada yang tertangkap dan dilepaskan kembali dengan alasan yang kami tidak mengerti,” ungkap Mujiluddin.

Mujiluddin didampingi pengacaranya dari Dedy Kurniadi & CO Lawyers yang beralamat di Wisma Tugu Raden Saleh Lantai 5, Jakarta ini juga menyampaikan eksepsi versi pengacara.

Tiga pengacaranya masing-masing Dedy Kurniadi SH, Akhmad Johari Damanik SH dan Ilham Prasetya Gultom SH mengatakan dakwaan yang dibacakan JPU pada Sidang pertama 14 Oktober 2014 tidak dapat diterima, karena tidak jelas sample mana yang dijadikan objek analisis.

Dakwaan disusun atas keterangan ahli yang tidak independen dan memiliki kepentingan. Menurut kuasa hukumnya PT. DPL, ahli datang ke lokasi sebelum dimulai penyidikan kebakaran. Surat keterangan ahli juga melanggar Permendiknas Nomor 42 Tahun 2006.

Kemudian dakwaan juga batal demi hukum, karena surat dakwaan tidak menguraikan secara jelas dan cermat tentang cara atau perbuatan terdakwa.

Menanggapi eksepsi tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andrile Firsa SH tidak menanggapi secara lisan.

“Kami akan menjawab secara tertulis karena ada dua berkas eksepsi,” kata Firsa kepada majelis hakim.

Ketua Majelis Hakim memutuskan sidang dilanjutkan pada Selasa, 18 November 2014, pukul 10.00 WIB dengan agenda tanggapan JPU terhadap eksepsi terdakwa.[red/*]

To Top