Sosial

PT. SPS Pelihara Burung Hantu Jaga Sawit

ACEHTERKINI.COM | Kepala Proyek PT. SPS-2, Marjan Nasution mengatakan pada saat kejadian kebakaran pada tanggal 19 Maret 2012, burung hantu sudah lari ke hutan. “Ya kita memang pelihara burung hantu,” kata dia di Pengadilan Negeri Meulaboh, Kamis (16/10/2014).

Sebelum terbakar, kata Marjan, sekitar tahun 2011, pihaknya membeli 10 ekor burung hantu di Medan, Sumatera Utara. “Tujuannya untuk menjaga tanaman sawit dari serangan hama tikus,” katanya.

“Kita buat sarang-sarang, kalau sekarang sudah bertambah banyak karena burung-burung hantu itu juga terus berkembang biak,” ujarnya lagi.

“Sekarang sudah banyak burung hantu di kawasan hutan,” katanya.

Terkait kebakaran, Ia pun berkisah. Pada saat kejadian kebakaran sekitar pukul 2 siang, saya berada di mess. Lalu saya melihat asap tebal sebelah timur dan bergegas melakukan komunikasi dengan karyawan dan Kepala Afdeling untuk mengambil langkah memadamkan api tersebut.

Dengan fasilitas apa adanya, karyawan dan masyarakat sekitar ratusan orang ikut memadamkan api. Saat itu angin kencang, bara api berterbangan pada 19 Maret.

Kemudian tanggal 20 Maret 2012 api sudah menyebar ke Afdeling E dan D. semua kerja, kita buat parit untuk membatasi supaya api tidak meluas. Selanjutnya pada 21 Maret 2012, itu titik puncak api, baru kemudian pada 24 Maret hujan turun.

“Enam hari api baru padam, kalau bara masih ada, sekitar tanggal 26 Maret 2012 baranya sudah habis,” kata Marjan.

Perusahaan juga memberikan honor kepada masyarakat yang ikut memadamkan api. “Kita bayar Rp200.000 per hari dan bervariasi, kita juga libatkan kontraktor dengan menggunakan eskavator untuk membuat parit pembatas, kita sewa eskavator, sekitar dua jutaan rupiah perhari. Masyarakat yang bekerja malam kita berikan konsumsi tambahan, seperti poding dan mie.

Saat kejadian kebakaran, Marjan mengakui PT. SPS hanya memiliki dua menara yaitu di Afdeling B dan H. “Menara yang di Afdeling H sudah runtuh,” katanya.

Setelah kejadian kebakaran itu Marjan menjabat sebagai Kepala Proyek PT. SPS-2. Kemudian berselang beberapa bulan kemudian, Marjan mendapat jabatan lain yaitu sebagai Inspektur Kebun sampai kini ia pensiun dari PT. SPS-2.

Ditanya bagaimana perlakuan pada sawit yang terserang hama, Marjan mengatakan untuk jenis hama rayap menggunakan racun. “Kalau tikus kita gunakan burung hantu,” katanya dalam persidangan.

Hadir Jaksa Penuntut Umum, Agusta Kanin SH dan Rahmat Nurhidayat SH.

Kuasa Hukum PT. SPS, masing-masing Rivai Kusumanegara SH, Trimoelja D. Soerjadi SH, Endar Sumarsono SH, Chairul Azmi SH, Indis Kurniawan SH, Irfan Indrabayu SH. [red/ist]

To Top