Sosial

PT. Astra Di Rawa Tripa Dijual Karena LSM Asing

ACEHTERKINI.COM | Perusahaan Kelapa Sawit PT. Astra Agro Lestari menjual Hak Guna Usahanya kepada PT. Agro Makmur Raya (Amara) karena LSM Asing.

Hal tersebut terungkap setelah Presiden Direktur PT. Amara, Robbyanto Budiman diambil keterangan sebagai saksi fakta dalam kasus Pidana Kebakaran Lahan Gambut diareal PT. Surya Panen Subur (SPS)-2 di Desa Pulo Kruet, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Rabu (14/10/2014) di Pengadilan Negeri Meulaboh.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH, Ia menjelaskan pembelian HGU PT. Astra Agro Lestari itu dilakukan pada 27 Oktober 2010.

“PT. Amara membeli HGU seluas sekitar 12 ribuan hektar di Nagan Raya, Provinsi Aceh, lalu PT. SPS menjadi anak perusahaan PT. Amara,” katanya dalam pesidangan tersebut.

Dijelaskannya PT Amara memiliki tujuh anak perusahaan kelapa sawit di Indonesia, meliputi satu perusahaan di Aceh, dua perusahaan di Sumatera Selatan dan empat perusahaan lagi di Kalimantan Selatan.

“Kita beli HGU itu juga termasuk dengan karyawan tetap dan tidak tetap sekitar lebih dari 2.000 orang pekerja,” kata Mantan Pengusaha Astra Honda di Jakarta ini.

Menurutnya PT. Astra Agro Lestari itu menjual HGU-nya karena diserang oleh LSM Asing. “Bukan perusahaannya di serang tapi pemilik perusahaannya yang diserang,” katanya menyakinkan.

“Pemilik PT. Astra itu ada orang Inggris, jadi yang diserang itu karena terkait Orangutan di areal PT. SPS-2,” terang Robby yang mengaku minim pengalaman usaha di bidang perkebunan sawit.

Dikatakan Robby yang sejak tahun 1983 bergelut sebagai Pengusaha ini, PT. Astra Agro Lestari itu menjual HGU nya karena dirinya sudah lama mengenal PT. Astra.

Untuk diketahui, Robbyanto dipanggil Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Negeri Suka Makmue, Nagan Raya dalam perkara nomor 53/Pid.Sus/2014/PN MBO dengan terdakwa para direksi PT. SPS yaitu Eddy Sutjahyo Busiri yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT. SPS, Marjan Nasution mantan Kepala Proyek PT. SPS dan Anas Muda Siregar menjabat sebagai Kepala Kebun Seuneuam PT. SPS.

Kemudian Robbyanto yang beralamat di Pluit, Jakarta Utara ini juga bersaksi dalam perkara nomor 54/Pid.sus/2014/PN MBO dengan terdakwa atas nama korporasi, PT. SPS yang diwakilkan oleh T. Asrul Hardiansyah.

Ia dipanggil untuk bersaksi atas kebakaran lahan gambut yang terjadi di areal PT. SPS pada 19-24 Maret 2012 dan pertengahan Juni 2012 dalam kawasan “Rawa Tripa” yang termasuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menuntut PT.SPS secara pidana di Pengadilan Negeri Meulaboh.

Pada persidangan sejak Senin – Kamis (13-16 Oktober 2014) ini, sejumlah Direksi PT. SPS dipanggil untuk memberikan keterangan saksinya. Selain Robbyanto Budiman, para Direksi itu adalah Edy Sutjahyo Busiri dan Marjan Nasution sebagai saksi mahkota

Para direksi ini membenarkan telah terjadi kebakaran seluas 1.183 hektar di lahannya pada 19 Maret 2012 dan pada pertengahan Juni 2012 seluas lebih kurang 60 hektar. “tidak ada tim khusus pemadam kebakaran kecuali para centeng saat terjadinya kebakaran,” akui Marjan, Kepala Proyek PT SPS-2.

HGU Dijual 27,33 Juta USD

Penelusuran acehterkini dari berbagai sumber, salah satu dari laman Ipotnews.com, pada 1 September 2010, PT. Astra Agro Lestari Tbk, produsen minyak sawit  mentah anggota group Astra melepas 100 persen sahamnya di salah satu anak usahanya PT. Surya Panen Subur senilai USD 27,33 Juta.

Direktur dan Corporate Secretary Astra Agro, Santosa menyatakan pembeli saham tersebut adalah PT. Agro Maju Raya dan PT. Hamparan Sawit Nusantara.

Santosa menjelaskan Surya Panen Subur memiliki bidang tanah dalam status Hak Guna Usaha (HGU) yang dahulu dibeli Astra dari PT. Woyla Raya Abadi dan PT. Agra Para Citra pada tahun 2007 dengan nilai transaksi Rp161 miliar. [red/ist]

To Top