Politik

Juru Bicara PA: Pernyataan Itu Provokatif

ACEHTERKINI.COM | Juru Bicara Partai Aceh, Suadi Sulaiman atau paling dikenal dengan panggilan Adi Laweung mengecam pihak-pihak tertentu baik kelompok dan pribadi yang mengeluarkan pernyataan provokatif terkait pembangunan yang berkeadilan di Aceh.

“Yang dilakukan Pemerintahan Aceh di bawah kendali Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf belum maksimal, disinilah butuh kebersamaan kita memberikan masukan kepada “Zikir” bukan melawan dengan cara kasar dan menunjukkan sikap arogan yang bermuara pada kebencian,” tegas Adi Laweung dalam siaran resminya Partai Aceh yang diterima acehterkini, Sabtu (11/10/2014).

Suasana damai dan aman di Aceh sudah kita rasakan setelah dihentikannya konflik bersenjata yang berlangsung lama.

“Tugas kita merawat dan menjaga perdamaian, bukan malah menciptakan pola-pola lama yang akan kembali menyeret konflik,” tandas Mantan Kombatan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) ini.

Ia bersama kader Partai Aceh menyayangkan pernyataan baru-baru ini oleh pihak-pihak tertentu yang sangat provokatif dan bisa mengarah kepada disintegrasi.

“Hari ini Aceh membutuhkan sentuhan lembut bukan kasar, Aceh butuh perhatian bukan provokasi yang sudah kadarluarsa,” tukas Adi Laweung.

Stabilitas politik, perekonomian dan pembangunan di Aceh memang berdampak langsung kepada kesejahteraan masyarakat, namun Pemerintahan “Zikir” belum lakukan secara maksimal 100 persen, maka disinilah sangat dibutuhkan kepekaan dan kebersamaan kita untuk memberikan masukan kepada “Zikir”, bukan menunjukan sikap arogan yang bermuara pada kebencian.

Terhadap keberlangsungan kinerja pemerintahan “Zikir” janganlah selalu dilihat dalam perspektif faktor kebencian saja tapi mari kita lihat dengan mata hati juga. Kita boleh melakukan intervensi terhadap pemerintah, namun untuk membangun bukan membenci.

Pembangunan dan perdamaian Aceh merupakan tanggungjawab bersama, bukan pemerintah saja. Kita boleh saja melakukan intervensi terhadap pemerintah namun dalam arah membangun bukan membenci dan memecah belah.

Aceh hari ini seperti bayi yang dilahirkan dari rahim konflik, maka tanggungjawab bagi kita sekarang adalah merawat dan membesarkan bayi tersebut, sehingga kita bersama bayi tersebutlah yang akan memberikan perubahan sistematis dan berkelanjutan bagi Aceh. [red/*]

To Top