Lingkungan

Direksi PT. SPS Akui Lahan Terbakar 1.000 Hektar

ACEHTERKINI.COM | Para Direksi PT. Surya Panen Subur (SPS) di Desa Pulo Kruet, Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya mengakui lahan kebun sawit milik anak perusahaan PT. Amara ini terbakar seluas 1.000 hektar lebih.

Hal tersebut terungkap setelah para direksi PT. SPS ini dihadapkan sebagai saksi mahkota dalam perkara pidana kebakaran lahan gambut di Pengadilan Negeri Meulaboh, sejak Senin (13/10/2014) sampai Kamis (16/10/2014).

Para direksi yang dipanggil Jaksa Penuntut Umum, Agusta Kanin SH adalah Presiden Direktur PT. SPS, Edy Sutjahyo Busiri, Presiden Direktur PT. Agra Maju Raya (Perusahaan Induk SPS), Robbyanto Budiman dan Mantan Kepala Proyek PT. SPS, Marjan Nasution.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Rahmawati SH, Edy Sutjahyo Busiri diperiksa, Selasa (14/10/2014). Ia mengatakan kebakaran di lahan PT SPS terjadi dua kali. Paling besar terjadi pada tanggal 19 Maret 2012 seluas 1.183 hektar.

Kemudian pada pertengahan Juni 2012, kebakaran kembali terjadi seluas sekitar 60 hektar.

“Akibat kebakaran itu PT. SPS mengalami kerugian mencapai Rp 7 Miliar,”kata Edy.

Lanjutnya, setelah 6 hari terbakar, api mulai padam. “Saya mengetahui kejadian ini setelah dihubungi oleh Bambang Susetyono, saat itu saya di Jakarta,” kata Edy Sutjahyo Busiri.

Kemudian saksi lain juga para direksi PT. SPS adalah Robbyyanto Budiman yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT. Agro Maju Raya (Amara), perusahaan induk dari PT. Surya Panen Subur (SPS).

Pada persidangan Rabu (15/10/2014), Robby membenarkan kejadian kebakaran di lahan PT. SPS pada 19 Maret 2012.

“Saya mendapat informasi hari kejadian melalui group BlackBerry Messenger dari Bambang Susetyono,” kata Robby.

Dikatakan oleh Robby, api mulai padam tangal 24 Maret 2012. “Luasnya 1.100 hektar terdiri dari 517 hektar yang sudah ditanam dan 666 hektar yang belum ada sawit,” katanya.

Lahan tersebut sudah dilakukan Land Clearing oleh kontraktor. “saya menduga kebakaran ini terjadi karena adanya api dari orang yang memancing di sekitar lahan, mungkin hidupkan api untuk usir nyamuk dan lupa dipadamkan,” katanya berat dugaan kepada orang yang memancing ikan.

Robby juga membenarkan kebakaran kembali terjadi pada pertengahan Juni 2012 di lahan PT. SPS -2.

Lain halnya keterangan mantan Kepala Proyek PT. SPS-2, Marjan Nasution. Ia mengaku melihat langsung kebakaran di lahan PT. SPS-2 pada 19 Maret 2012.

“Api padam bukan tanggal 24 Maret, tapi pada 26 Maret 2012 baranya sudah padam. Ini hasil kerja keras karyawan PT. SPS dan masyarakat setempat,” katanya dalam persidangan, Rabu (15/10/2014).

Marjan mengatakan saat kejadian kebakaran PT. SPS hanya memiliki dua unit menara pemantau api. Satu unit sudah runtuh di Afdeling H. Sedangkan satu lagi terletak di Afdeling B.

Marjan mengaku saat kejadian kebakaran bahwa PT. SPS belum memiliki tim pemantau api dan juga belum memiliki aturan khusus terkait upaya penanggulangan kebakaran di PT. SPS.

Dikatakannya luas lahan yang terbakar pada 19 Maret 2012 itu, 1.183 hektar sebagian di Afdeling F, Afdeling D, Afdeling E, Afdeling I, Afdeling G, Afdeling H.

“Saat itu, 19 Maret angin kencang, bara api berterbangan di Afdeling F, kemudian 20 Maret, api menyambar Afdeling E dan Afdeling D, titiknya di Afdeling I terus ke Afdeling G,” katanya.

Menurut Marjan, satu Afdeling luasnya sekitar 600-700 hektar. Sedangkan satu block itu luasnya 30 hektar. “dalam Afdeling ada sekitar 20 block, tidak semua block terbakar,” katanya.

Menanggapi keterangan pada direksi ini, Kuasa Hukum PT SPS, Endar Soemarsono mengatakan pengakuan adanya kebakaran di PT. SPS seluas 1.000 hektar lebih itu hanya perkiraan estimasi para direksi.

“Tidak ada pengukuran yang akurat,” kata Endar.

Perusahaan juga mengalami kerugian yang sangat besar akibat kebakaran tersebut. Juga sudah melakukan upaya untuk memadamkan api tersebut.

Setelah sidang di skor beberapa menit, Endar mengulang pengakuan Marjan terkait belum adanya aturan dan petugas pemantau api saat kejadian kebakaran.

Marjan lalu mangatakan setiap Afdeling itu ada centeng-centengnya. Menurut Marjan centeng itu bertugas sebagai keamanan dan memantau api.

“Centeng itu juga selalu menghimbau agar tidak membuang puntung rokok dan melarang merokok di lahan gambut,” ungkap Marjan.

Marjan juga mengatakan setiap hari ada upacara dan himbauan kepada karyawan agar tidak membakar di lahan gambut. “itu sudah menjadi budaya dan kebiasaan karyawan PT. SPS,” sambung T. Asrul Hardiansyah, terdakwa atas nama korporasi PT.SPS menguatkan keterangan saksi tersebut. [ist]

To Top