Layanan Publik

Banda Aceh Piloct Project Kota Ramah Difabel

ACEHTERKINI.COM | Kota Banda Aceh menjadi piloct project kota inklusif yang ramah bagi penyandang difabel. Hal itu dikemukakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , Mari Elka Pangestu, Jakarta, kemarin.

Mari Elka Pangestu mengatakan, Banda Aceh telah memberi contoh bagaimana kota ini terus melakukan perbaikan rencana pembangunan jangka panjang maupun menengah dengan menjadikan kotanya sebagai kota yang ramah bagi semua warganya termasuk kaum difabel.

“Walikota Banda Aceh sudah bersedia untuk menjadi piloct project, membuat kotanya nyaman bagi semua warganya termasuk penyadang difabel. Ini sudah dilakukan sejak pasca tsunami dengan pembangunan infrastruktur yang mendukung dan terus melakukan perbaikan,” kata Mari Elka Pangestu.

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal di dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh, Pemerintah Kota merancang pembangunan infrastruktur yang aman dan nyaman bagi penyandang difabel.

Kendala Qanun

“Bukan itu saja, kami juga telah membuat rancangan qanun (Perda) Kota Ramah Gender yang di dalamnya juga mengokomodir segala kebutuahan difabel. Sejak 2010, rancangan qanun sudah diserahkan ke legislatif, namun hingga masa jabatan dewan berakhir rancangan qanun itu belum juga disahkan. Saya akan terus berjuang hingga rancangan qanun tersebut disahkan,” tutur Illiza dalam keterangannya, Minggu (12/10/2014).

Sebut Illiza, tercatat ada sekira 632 penyandang difabel di Banda Aceh dari jumlah penduduk pada 2013 mencapai 249.282 jiwa.

Program Untuk Difabel

Adapun, beberapa program yang saat ini tengah dijalankan menjadikan Banda Aceh sebagai kota yang ramah dan inklusif antara lain dengan menyediakan fasilitas kesehatan gratis bagi para penyandang disabilitas yang tidak mampu.

Memberikan bantuan sebesar Rp2,5 juta per tahun bagi tuna netra. Menyediakan lantai bawah rumah susun (Rusunawa) untuk penyandang disabilitas, agar akses mereka lebih mudah.

Membangun ram pada bandara, rumah sakit, Balaikota, sehingga bisa dilewati kursi roda. Membangun kantor bersama bagi penyadang disabilitas.

“Saya sadar betul masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu kami perlu masukan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan kota kami sehingga menjadi kota yang benar-benar nyaman bagi semua warganya tanpa diskiriminasi,” kata Illiza. [red/*]

To Top