Lingkungan

Agam dari Aceh Timur Mati, #RIP Agam

ACEHTERKINI.COM |Berita duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree di Kabupaten Aceh Besar Minggu (26/10/2014). Agam, seekor anak gajah yang diambil dari pelosok Aceh Timur pada Desember 2013, telah pergi untuk selamanya setelah melewati masa sakitnya akibat cidera dislokasi tulang panggul kaki belakang.

Ini merupakan kejadian kesekian kalinya. Pada 2013, Aceh juga kehilangan anak gajah sumatera bernama Raju dan Munira yang menjadi korban konflik satwa dengan manusia.

Penyebab kematian Agam masih harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kepala BKSDA Aceh, Genman Suhefti Hasibuan yang dihubungi di Banda Aceh, Senin (27/10/2018), mengatakan Agam dilaporkan mati hari Minggu pukul 16.45 WIB di kandangnya.

“Dari kasat mata, hasil otopsi yang kita lakukan, kematian Agam ini karena proses yang terjadi sebelum kecelakaan yaitu kurang mendapatkan air susu ibu (ASI) dari induknya. Agam kita ambil tanpa induknya dari pedalaman Aceh Timur,” kata Genman.

Karena tidak mendapatkan ASI, petugas di PLG Saree memberikan susu formula. “Dugaan sementara, terjadi penyerapan kalsium yang tidak sempurna yang mengakibatkan kerapuhan tulang,” ungkap Genman.

“Kita ketahui untuk kesempurnaan saraf, gajah harus banyak bergerak. Tapi,  Agam ketika sakit gerakannya tidak maksimal, sehingga mempengaruhi saraf.”

Agam diketahui mengalami cidera karena terjatuh saat bermain pada pertengahan Mei 2014 lalu. Sejak jatuh, Agam masih bisa bergerak dan berjalan ke sana kemari. Kondisi Agam memburuk setelah sebulan lalu dia tidak bisa bangun sama sekali.

Selama sakit, Agam dirawat oleh dokter PLG Saree dan dokter dari Vesswic dengan dibantu mahout.

Lebih lanjut Genman Hasibuan menceritakan, satu minggu sebelum Agam mati atau sekitar tanggal 20 Oktober 2014, pihak Taman Safari datang ke Banda Aceh untuk menilai layak atau tidaknya Agam dipindahkan ke Jakarta.

Kemudian BKSDA juga melakukan koordinasi dengan Universitas Syiah Kuala yang memunculkan rencana operasi pada Gajah Agam. “Saat kita mau jajaki SOP pengoperasian, Minggu 26 Oktober 2014, Agam mati,” kata Genman.

Menurut Genman, dokter telah melakukan pengambilan sampel organ dalam tubuh Agam untuk otopsi. Sampel itu dibawa ke laboratorium patologi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan ke Bogor untuk diteliti penyebab kematiannya.

Jasad Agam sudah dikebumikan di PLG Saree, Minggu tengah malam. “Kita khawatir kalau tidak segera di tanam bisa berdampak buruk bagi manusia dan 22 ekor gajah lain yang sekarang berada di PLG Saree,” kata Genman.

#RIPAgam

Kematian Agam mengejutkan para pecinta gajah di Indonesia dan di luar negeri. Ucapan duka dengan tagar #RIPAgam bermunculan di facebook para pencinta gajah yang selama ini mengikuti perkembangan sakitnya Agam.

Lek Chailert, pencinta gajah dari Elephant Nature Park (ENP) Thailand yang sempat datang mengunjungi Agam seminggu sebelum kematiannya, menulis berita sedih di dinding halaman facebook-nya: “To Dear Friends. I just get the sad news from Indonesia: AGAM have pass away this evening. Finally the poor baby have give up. The life so fragile. May be he is in the better place now. Agam now relief from pain and suffer. May you Rest in Peace. You will be always in my heart.”

Gerakan Indonesia Sahabat Gajah (ISG), sebuah komunitas yang peduli pada gajah sumatera menyampaikan keprihatinan atas matinya Agam. Saat mendengar Agam sakit hampir dua bulan lalu, ISG aktif mengupayakan dukungan untuk membantu penyembuhan Agam.

Menurut Nurjannah Husien yang dihubungi di Banda Aceh, ISG coba mencari bantuan terapi untuk Agam yang saat itu tidak bisa bangun lagi. Dua minggu lalu ISG memfasilitasi mesin x-ray dan dokter dari ENP untuk membantu memberi saran terapi. Para pencinta gajah di Indonesia juga sedang menggalang kepedulian dengan melakukan pengumpulan dana buat Agam. Sayang Agam tak bisa diselamatkan.

“Kami terkejut dengan meninggalnya Agam. Seminggu sebelumnya kondisi Agam terlihat lebih baik sejak dibuatkan alat bantu berdiri. Kami sangat kecewa pemerintah gagal menyelamatkan generasi gajah sumatera yang tersisa ini,” kata Nurjannah Husien yang dihubungi di Banda Aceh.

Dengan matinya Agam, saat ini BKSDA Aceh hanya memiliki seekor anak gajah yang umurnya sebaya dengan Agam. “Sekarang masih ada satu lagi gajah kecil bernama Rossa di PLG Saree. Berbeda dengan Agam, Rossa yang umurnya dua tahun, memiliki induk sehingga mendapatkan ASI dan kalsium yang cukup,” kata Genman.

Genman mengatakan, masalah Agam kini sudah selesai. BKSDA akan fokus pada persoalan yang lebih besar yaitu penanganan konflik antara manusia dan satwa.

Genman menambahkan, Agam sebetulnya bagian kecil dari persoalan konservasi gajah di Aceh. Permasalahan konflik satwa dengan manusia hanya bisa diselesaikan ketika semua pihak punya keinginan bersinergi untuk menyelesaikannya. [mongabay]

To Top