Sosial

Saksi Benarkan Lahan PT. SPS Terbakar

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah saksi fakta membenarkan lahan perusahaan kelapa sawit PT. SPS-2 di Desa Pulo Kruet, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya terbakar pada Maret 2012.

Sedikitnya sudah 11 orang saksi fakta diambil keterangannya oleh Ketua Majelis Hakim yang dipimpin Rahmawati SH bersama hakim anggotanya Alex Adam Faisal SH dan Rahma Novatiana SH sejak Agustus 2014 lalu.

Pada persidangan Rabu (17/9/2014) di PN Meulaboh, Ir. Fakhri salah seorang saksi fakta memberikan keterangannya pada perkara nomor 53/Pid.Sus/2014/PN MBO.

Ia membenarkan telah terjadi kebakaran lahan di areal PT. SPS-2 pada 19 Maret 2012 seluas 517 hektar.

“Saya mengetahui kebakaran tersebut setelah menerima surat faximile dari PT. SPS-2 yang menyebutkan telah terjadi kebakaran seluas 517 hektar,” kata mantan Kabid usaha tani perizinan dan pengolahan hasil perkebunan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh.

Fakhri menjelaskan surat Fax tersebut dikirim oleh terdakwa III, (red-Anas Muda Siregar), sekitar awal April 2012.

“Saya tidak ingat perinciannya, ada beberapa blok yang terbakar, jumlahnya tidak ingat, saya sempat menelpon Marjan Nasutian (red-terdakwa II),” beber Fachri dalam persidangan tersebut.

Menurut Fakhri, jika lahan gambut diareal PT. SPS-2 itu terbakar maka yang bertanggungjawab adalah manajemen PT. SPS-2.

Ia juga mengatakan lahan PT. SPS-2 yang jumlahnya hampir 13 ribu hektar itu masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). “Saya tahu itu, setelah saya menelpon Kabid Planologi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh,” terang Fakhri.

Pernyataan Fachri ini juga dibenarkan oleh terdakwa II dan III. Sedangkan terdakwa I (red- Eddy Sutjahyo Busiri) tidak tahu karena saat itu berdomisili di Jakarta.

Selain itu, Ibduh yang merupakan Keuchik Sumber Bakti, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya juga menjadi saksi pada perkara 53/Pid.Sus/2014/PN MBO.

Ibduh membenarkan terjadi kebakaran di lahan PT. SPS-2.

“Saya melihat langsung kejadian tersebut, asap tebal sampai ke kampung,” kata Ibduh dihadapan majelis hakim.

Menurut Ibduh, yang terbakar itu adalah hutan dan kebun sawit yang sudah ditanam sekitar satu tahun setengah. Tinggi pohon sawitnya sekitar dua meter. “Kalau masyarakat bilang, lokasi yang terbakar itu blok 8, areal PT. SPS-2,” terang Ibduh.

Setelah melihat kejadian itu, Ibduh mengaku langsung menuju kota kecamatan di Alue Bili. Kemudian Ia pulang ke rumah dan masih melihat asap.

Merasa tak nyaman dengan asap tersebut, Ibduh menghubungi LSM Lingkungan yang ada di Alue Bili. Ia juga melaporkan kejadian itu secara lisan kepada orang-orang terdekatnya.

Pada saat kejadian, Ibduh tidak melihat ada orang yang memadamkan api.

Keterangan Ibduh ini dibantah oleh terdakwa Eddy Sutjahyo Busiri, Marjan Nasution dan Anas Muda Siregar.

Menurut Marjan, block 8 tidak terbakar. “yang terbakar adalah block hutan diluar PT. SPS-2, dan block 7 diujungnya sedikit terbakar,” kata Marjan membantah keterangan Ibduh.

Penasehat Hukum PT. SPS-2, Rivai Kusumanegara menyayangkan keterangan Ibduh yang tidak konsisten dan bertentangan dengan fakta yang kami miliki dan saksi-saksi lain yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Kita menduga Ibduh memberikan keterangan palsu, kami akan pertimbangkan untuk melaporkan Ibduh atas keterangan palsunya,” kata Rivai.

Fachri dan Ibduh juga memberikan keterangan yang sama pada perkara Pidana Nomor 54/Pid.Sus/2014/PN MBO dengan terdakwa atas nama korporasi PT. SPS-2 yang diwakili oleh Teuku Asrul Hardiansyah. [red]

To Top