Pendidikan

Pemerintah Aceh Garap Film Dodaidi

ACEHTERKINI.COM | Pemerintah Aceh melalui Balai Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, saat ini sedang gencar-gencarnya menggarap video visual muatan lokal (mulok) dodaidi, yaitu seni tutur yang disampaikan orang tua sebagai pengantar tidur anak di sejumlah daerah di provinsi Aceh.

Demikian diungkapkan Kepala Balai Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Zulkarnaini, didampingi Kasi Pengembangan Aplikasi TIK, Drs. Anwar M. Isa, M.Si, usai melakukan syuting dodaidi versi Gayo, Minggu, (28/9/2014), di Kota Takengon, Aceh Tengah.

“Kita terus menggarap video dodaidi ini, di harapkan desember ini video yang memuat pesan pendidikan kepada anak dapat terealisasikan dan didisbutrikan ke sekolah-sekolah di Aceh,” kata Zulkarnaini.

Dikatakan dia, dodaidi tersebut sebagai motivasi terhadap anak, terutama dalam mempersiapkan kehidupan generasi kita, baik dunia maupun akhirat. Berdasarkan penelusuran pihaknya, hampir di seluruh daerah di Aceh, memiliki seni tutur tersebut dengan masing-masing versi.

“Sebagai langkah awal, kita mengambil sampel di kota dingin ini. Selanjutnya, Aceh Besar dan beberapa Kabupaten dan Kota di daerah pesisir yaitu Aceh Barat, Aceh Selatan, misalnya,” katanya menyebutkan.

Masih kata Zulkarnaini, versi yang dimuat itu dalam bentuk features, dengan menaruh harapan para anak didik di Aceh, benar-benar paham dengan seni tutur dodaidi.

“Karena akhir-akhir ini, dodaidi ini sudah jarang dimamfaatkan oleh masyarakat Aceh, secara umumnya. Sehingga, dengan produksi ini, siswa dan siswi di Aceh dapat mengenal budaya mereka,” tutur Zulkarnaini.

Masih menurut dia, pesan semacam itu dapat memberi makna betapa besar rasa kasih sayang, tanggung jawab dan harapan orang tua dalam mengasuh anaknya.

“Karena, dalam kultur adat Aceh, anak dalam rumah tangga atau keluarga salah satunya anak sebagai sunnatullah, hasil kekuatan rasa kasih sayang suami isteri (mu’asyarah bil ma’ruf) sebagai mawaddah dan rahmat Allah SWT untuk memperkuat bangunan hubungan rumah tangga yang rukun damai, bahagia dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Islami,” tuturnya.

Disamping itu, sambung dia, sebagai penyambung hubungan naluri batiniah dan jasmaniah antara orang tua dengan anak-anaknya dapat ditemukan dalam nuansa ungkapan pantun-pantun atau yang dikenal dengan peurateb aneuk (dodaidi).

“Dahulunya, dodaidi ini merupakan sebuah kebiasaan kaum ibu di gampong-gampong. Seorang ibu sambil mengayun-ayunkan ayunan bayi menuturkan syair-syair yang penuh pesan moral,” sambungnya.

Ia menambahkan,  pesan dan bimbingan itu secara naluri membuat anak terbuai nikmat dalam ayunan. Nilai pesan itu mengandung makna bahwa seorang anak harus bersiap membangun hari depan dan bertanggung jawab dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya kepada agama dan orang tuanya.

“Tali hubungan itu akan terbina akrab, manakala yang mengasuhnya adalah ibu kandungnya sendiri,” tambah Zulkarnaini.

Sebagaimana diketahui, syuting dodaidi di Takengon di perankan oleh Khadijah, salah seorang guru Sekolah Dasar di Kota dataran tinggi Gayo. Ia juga salah seorang seniman di Takengon. (red/*)

To Top