Hukum

Main Judi, 8 Orang Dicambuk di Aceh

ACEHTERKINI.COM | Delapan dari sembilan orang yang divonis bersalah melanggar Qanun No 7/2013 tentang Hukum Acara Jinayah junto Pasal 23 ayat (1) Qanun Nomor 13/2003 tentang Maisir oleh Mahkamah Syariat, Banda Aceh, Jumat (19/9) pukul 15.00 WIB dicambuk di halaman Mesjid Besar Kampung Ateuk Pahlawan.

Ribuan jamaah termasuk anak-anak ikut menyaksikan prosesi cambuk itu. Ikut menyaksikan kegiatan tersebut Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Teuku Saifuddin TA dan sejumlah pejabat lainnya, puluhan polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Banda Aceh ikut mengamankan kegiatan tersebut.

Dikutip dari beritsatu, Jaksa Penuntut Umum Nurhalma menyebutkan, delapan warga tersebut dicambuk karena melanggar Qanun No 7/2013 tentang Hukum Acara Jinayah junto Pasal 23 ayat (1) Qanun Nomor 13/2003 tentang Maisir (Perjudian).

“Mereka semua terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana jarimah maisir (judi) ,” ujarnya saat membacakan putusan Mahkamah Syar’iyah.

Ketua Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banda Aceh Ritasari Puji Astuti menyatakan, sembilan orang tersebut ditangkap polisi saat bermain taruhan kartu remi pada Juli 2014 lalu.

Saat itu, polisi menyita 52 lembar kartu remi dan uang tunai senilai Rp1,54 juta. Sebelum dicambuk, tim medis memeriksa kondisi kesehatan terhukum, dokter menyatakan seorang di antara mereka, AS, tidak sehat sehingga tidak dicambuk, maka dari sembulan yang dihukum hanya delapan yang bisa dicambuk.

Menurut Jaksa Penuntut Umum, terpidana yang terganggu kesehatan tersebut akan dicambuk setelah kondisi kesehatannya membaik.

Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh dalam persidangan 15 September lalu memvonis delapan warga tersebut dengan hukuman delapan kali cambuk dipotong masa tahanan atau tiga kali cambuk. Jadinya, mereka hanya dicambuk lima kali. Cambuk dilakukan oleh seorang algojo yang mengenakan baju jubah dengan penutup kepala.

Prosesi cambuk sempat diwarnai insiden, karena tiga terpidana cambuk dilanda emosi. Usai dicambuk, mereka hendak menyerang algojo, namun berhasil dicegah Polisi Syariat (WH).

Bahkan, seorang terpidana cambuk emosi dengan berupaya menyerang para fotografer yang berada di depan panggung. Ia juga berupaya merebut rotan dan menyerang algojo.

Wali kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal menyebutkan, dalam 12 tahun pemberlakuan syariat Islam, Banda Aceh telah melaksanakan cambuk sebanyak tujuh kali.

“Cambuk ini untuk mengangkat derajat mereka di hadapan Allah,” kata Illiza.

Ia menambahkan, hukuman cambuk ini dilaksanakan sebagai bagian dari penegakan syariat Islam di Banda Aceh.

“Cambuk ini bukan hanya hukuman fisik bagi pelanggar, tapi juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Judi merupakan perbuatan yang diharamkan Allah,” terangnya. [red-002]

To Top