Lingkungan

Hutan Aceh Benteng Terakhir Gajah Sumatera

ACEHTERKINI.COM | Direktur Eksekutif Daerah WALHI, Muhammad Nur mengatakan perubahan fungsi hutan tentu akan berdampak. “Salah satunya adalah jumlah populasi satwa yang dilindungi terancam punah,” kata M. Nur, Rabu (10/9/2014).

Ia mengatakan ada Sembilan kabupaten di Aceh sebagai pusat populasi gajah. WALHI Aceh menyayangkan pembunuhan Gajah terus dilakukan oleh pihak tertentu.

“Hutan Aceh merupakan benteng terakhir bagi Satwa Gajah Sumatera untuk hidup,” kata Muhammad Nur.

Menurutnya jika kegiatan konversi hutan menjadi lahan bisnis perkebunan maupun pertambangan dan perluasan bisnis lainya justru akan menyempitkan ruang bagi Gajah Sumatera.

Kepunahan Gajah menjadi satu indikasi perubahan hutan dalam skala besar dengan alasan mempercepat pembangunan jalan yang membelah kawasan konservasi dan hutan lindung.

Untuk diketahui, 24 tahun yang lalu Bangsa ini telah memberikan penghormatan dan perlindungan bagi hewani yang dituangkan dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya.

UU No. 5 selalu dijadikan dasar hukum setiap pembangunan yang berdampak terhadap lingkungan hidup. Faktanya satwa jenis Gajah tetap saja dibunuh setiap tahunnya di berbagai kabupaten di Aceh.

Pada tahun 2000 melalui SK Menhut 170 telah menyebutkan status kawasan hutan dengan total luas ± 3.549.813 hektar untuk Aceh.

Pada tahun 2013 pemerintah pusat atas permintaan pemerintah Aceh juga mengabulkan perubahan hutan Aceh melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 941/II/2013, Tanggal 23 Desember 2013, Perubahan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas ± 42.616, Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Seluas ± 130.542 Perubahan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan Seluas ± 26.461 hektar. [red/ril]

To Top