Hukum

Banding Perdata Ditolak, PT. Kallista Alam Kalah Lagi

ACEHTERKINI.COM | Pengadilan Tinggi Banda Aceh menolak permohonan banding perdata PT. Kallista Alam atas kasus pembakaran lahan gambut di seluas kurang lebih 1.000 hektar.

Putusan Pengadilan Tinggi Banda Aceh ini dikeluarkan 15 Agustus 2014 lalu dengan menguatkan putusan perdata PN Meulaboh tanggal 8 Januari 2014.

Terkait penolakan tersebut, Penasehat Hukum PT. Kallista Alam mengatakan belum menerima salinan putusan banding perdata tersebut. “Kemungkinan kami akan melakukan kasasi,” kata Alfian dalam pesan singkatnya.

Tim Koalisi Penyelamatan Rawa Tripa (TKPRT) menyambut baik putusan tersebut. “Ini merupakan kemenangan bagi lingkungan di Aceh,” kata Juru Bicara TKPRT, Fadilla Ibra.

Kemenangan ini juga merupakan bagian usaha yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Tripa diantaranya melalui 21 tokoh masyarakat dengan mengeluarkan petisi kepada Gubernur Aceh untuk segera menyelamatkan Rawa Tripa dan meminta Gubernur untuk meninjau kembali HGU perusahaan yang terdapat di dalam KEL pada tahun 2010.

Kegiatan Perusahan yang berada dalam Kawasan Tripa telah mebuat masyarakat terusir dari tanahnya dan harus menyaksikan suplai air, ikan dan sumber daya alam lainnya dirampas dari perusahaan.

“Sayangnya, sebagian besar kerusakan telah terjadi. Saat ini Tripa sangat membutuhkan program restorasi yang komprehensif dan serius jika kita masih ingin mengembalikan hutan, satwa dan pencaharian penduduk sekitar,”ujar Fadila dalam siaran tertulisnya.

Pada kasus lainnya yaitu perkara Pidana pada tanggal 15 Juli 2014, Direktur PT Kalista Alam diputuskan bersalah atas pembukaan lahan tanpa Izin dan dijatuhi hukumnan 8 bulan Penjara dengan denda Rp150 Juta, sedangkan Manajer Lapangan PT Kallista Alam juga diputuskan bersalah karena membuka lahan dengan cara pembakaran dengan hukuman 3 tahun penjara dan denda Rp 3 milyar oleh Pengadilan Negeri Meulaboh.

Selain itu, kasus ini merupakan salah satu dari beberapa kasus yang menggugat PT Kallista Alam dan 4 perusahaan sawit lainnya di Tripa. PT Surya Panen Subur 2, PT Gelora Sawita Makmur dan PT Dua Perkasa Lestari juga sedang menghadapi gugatan yang sama atas pembakaran lahan secara illegal dalam kawasan gambut.

TKPRT memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penegakan hukum yang berjalan diantaranya Penolakan oleh Pengadilan Tinggi di Aceh terhadap kasus PT. Kalista Alam, dan TKPRT menilai keadilan telah tercapai dalam kasus ini.

“Namun kita tidak boleh lupa bahwa Tripa (merupakan bagian dari KEL) dan hutan gambutnya masih dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya sudah hampir punah, terlepas dari keberhasilan kasus ini. Tripa merupakan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser, tempat terakhir di bumi ini dimana orangutan, badak, gajah dan harimau hidup bersama,” katanya. [red/*]

To Top